Orang yang berjihad dan syahid hari ini akan masuk Neraka???

Anshar SyariahMimbarAlQalam – Membantah syubhat orang yang mengatakan, “Berhati-hatilah!!! Orang yang pertama masuk Neraka adalah Mujahid.”

Tulisan ini sengaja ditulis untuk membantah isu dan syubhat yang berkaitan dengan perkataan diatas. Isu itu lumayan ampuh bagi mereka yang berada dalam keraguan dan lebih mengedepankan keinginan semata. Akan tetapi, bagi mereka yang tetap istiqamah dan jujur, isu tersebut justru menjadi penghibur hati, “selingan”, dan memperkokoh keyakinan mereka kepada Alloh, bahwa jalan mulia itu tidak akan dilalui melainkan penuh dengan ujian dan cobaan yang sangat berat.

Ini adalah bantahan ilmiyah—kalau bisa dikatakan seperti itu—terhadap syubhat yang banyak beredar di kalangan yang meragukan, mementahkan, menolak dan meniadakan perintah wajibnya jihad (dalam hal qital); untuk menolong saudara muslimin yang lemah dan tertindas, serta dalam rangka izharud dien dan menyebarkannya.

Alloh Subhanahu wata’ala memerintahkan umat islam dalam firmannya:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Bukankah banyak sekali mereka yang mengaku beriman? Sebab ketika Alloh berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…”[1] lantas mereka pun akan berpuasa, karena ini seruan kepada yang iman kepada Alloh, lalu bagaimana dengan perintah, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci…”[2] lantas mengapa ada yang menghinanya dan menuduh pelakunya sebagai orang pertama yang masuk neraka??? Atau minimal menakut-nakuti orang yang ingin menempuhnya.

Sesungguhnya Alloh Subhanahu wata’ala berfirman,

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan Dien (Islam) yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (At-Taubah: 33)

Dan firman Alloh Subhanahu wata’ala,

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah (dijajah) baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!’.” (An-Nisaa’: 75)

Bila ditanyakan, mengapa kita tidak memenangkan Islam dan berperang untuk membela orang yang lemah???

Mengapa menghina mujahidin dan menuduh pelakunya sebagai orang pertama yang masuk neraka??? Menakut-nakuti orang yang hendak menempuhnya, menteroriskan mereka, atau mengkhowarijkan mereka.

Wallohu a’lam, ada motif apa dibalik orang-orang yang mengatakan bahwa kelompok yang berjihad hari ini yang membela kaum lemah, kehormatan dan agama dituding-tuding sebagai teroris, khowarij atau stigma buruk lainnya??

Apalagi, bagi orang yang oportunis, berita yang menyeret-nyeret fitnah ini (Mujahid dituduh sebagai teroris) dianggap sebagai berita yang seksi, yang dapat meraup banyak keuntungan, pengalihan isu dan target peng-kambinghitam-an. Wal ‘iyyadzu billah.

Parahnya, pemfitnah itu mengaku dirinya sebagai muslim. Padahal, secara terang-terangan (bukan samar, apalagi cuma isu) mereka menjadi kawan mesra bagi orang kafir dan jongos-jongosnya. Mereka bersatu dibawah telapak kaki Amerika dan konco-konconya untuk menindas kaum muslimin, meneror muslimah yang berjilbab, memenjarakan Ulama, bahkan lancang menodongkan senjatanya kepada anak kecil dengan keji.

Tidak cukup sampai disitu saja kebiadabannya, mereka melakukan penghinaan terhadap Alloh; menendang orang yang sedang sholat, menodong senjata muslimah yang hendak menutup kehormatannya (aurot), melakukan simulasi penangkapan teroris oleh Densus 88 dengan menggunakan symbol masjid dan tulisan, “Jihad Fi Sabilillah”.

Oh, maksudnya masjid itu sarang teroris? Yah ini adalah buagus!

Maka sadarlah umat islam, kalian ini disebut-sebut sebagai teroris, karena keislaman kalian. Kecuali mereka yang bersedia kompromi ikut-ikutan menghina agama Alloh Subhanahu wata’ala.

Memangnya, siapa yang teroris? Yang punya pisau dapur dirumah? Bukannya OPM membunuh masyarakat sipil dan orang lemah, mereka memiliki senjata api dan sajam, mengapa tak disebut-sebut sebagai teroris? Apakah karena mereka tidak punya masjid??

Maka, sekali lagi, pengakuan islam pada diri seseorang yang kesal dengan mujahidin, sejatinya itu hanyalah sebatas pengakuan semata. Mereka layaknya api dalam sekam, ular dalam semak belukar dan seperti racun dalam susu.

Mereka itu adalah para penggembos, yang secara langsung atau tidak, disadari atau tidak, menghasilkan keuntungan yang besar bagi orang kafir. Mereka justru cikal-bakal orang yang tidak mau diatur oleh tatanan Alloh Subhanahu wata’ala, ingin bebas menikmati panorama dunia. Ingin bebas menikmati hukum alam yang berlaku. Perubahan siang-malam, enak dan lapang, kekayaan harta, kesembuhan, angin yang sepoi-sepoi dari ventilasi AC.

Bukankah itu semua hukum alam yang diciptakan Alloh, yang mereka manfaatkannya dan menikmatinya? Lantas, mengapa hukum syariah yang ada dalah Kitabulloh serta merta mereka menolaknya dan enggan “menikmatinya”. Oh, menginginkan kebebasan?

Bukankah semua itu sama halnya dengan mengakui eksistensi Alloh dalam hal mengatur alam semesta, namun mendustakan eksistensi Alloh dalam hal mengatur hukum syar’i?

Para penggembos hari ini gemar sekali mendengung-dengunkan dalil yang bukan pada tempatnya. Tanpa rasa malu dan tanpa pikir panjang lagi, meletakkan hadits Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam yang mulia bukan pada tempatnya. Tidakkah mereka takut laknat Alloh Subhanahu wata’ala dari perbuatannya itu?

Mereka suka mengatakan, “Hati-hatilah kamu, sesungguhnya orang yang pertama kali masuk neraka adalah orang yang berjihad!”

Atau mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka yang berjihad itu adalah mereka yang pertama kali masuk neraka.”

Atau mereka mengatakan, “Hati-hati, kamu akan tergolong orang yang pertama kali masuk neraka karena kamu berjihad.”

Sambil menyitir hadits Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam, yang sebenarnya hadits itu berbicara tentang orang yang riya’, bukan menjelaskan orang berjihad akan masuk neraka. Berikut ini adalah redaksi hadits selengkapnya dan sumbernya:

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(Pertama) “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya: ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (hamba ini mengakui beramal karena riya’—edt).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

(Kedua) berikutnya orang adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim dan engkau membaca Al-Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an). Memang begitulah yang dikatakan (hamba ini mengakui beramal karena riya’—edt).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

(Ketiga) berikutnya adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (hamba ini mengakui beramal karena riya’—edt).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka’.”

Diriwayatkan oleh: HR. Imam Muslim, Kitabul Imarah, bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar (VI/47) atau (III/1513-1514 no. 1905); HR. Imam An Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari’; HR. Imam An-Nasa’i VI/23-24; HR. Imam Ahmad II/322; HR. Imam Al-Baihaqi, IX/168

Demikianlah, tidak diragukan lagi bahwasanya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ini shahih dan benar adanya. Namun, mengapa hadits ini sering sekali dilemparkan secara serampangan kepada mereka yang mencintai jihad dan mujahidin?

Hadits diatas membicarakan rusak dan gugurnya perintah ataukah orang yang riya’ dalam mengamalkannya???

Kemudian, pertanyaannya, “Apa tujuan yang hendak dicapai oleh orang yang sekarang ini suka melemparkan hadits ini kepada mereka yang mencintai jihad dan mujahidin???”

Apakah agar anak muda membenci jihad dan mujahidin, menghindari mereka semuanya?

Apakah mereka bermaksud untuk mengatakan bahwa orang yang berperang hari ini adalah teroris, khowarij, bukan Mujahid?

Lalu siapa yang sekarang dianggap sebagai Mujahid? Densus?

Tentu mereka tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan ini. Karena mereka bingung dalam manhaj dan pemahaman mereka. Mereka lebih suka menyebarkan kebohongan dan syubhat dengan cara memanfaatkan sandungan-sandungan kecil, kemudian dibesar-besarkan. Padahal, sebetulnya ada ujian dibalik semua itu dari Alloh Subhanahu wata’ala.

Mereka hanya akan meladenimu dengan menunjukkan pembahasan yang dilipat, talbis dan tadlis terhadap dalil-dalil untuk membenarkan keyakinan mereka, bahwa tidak ada jihad pada hari ini. Ya, ini adalah syubhat yang nyata!

Apakah dengan menyampaikan argument berupa hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah itu bermaksud untuk menghapus syariat jihad? Kemudian menyalah-nyalahkan pelakunya hari ini?

Atau apa yang hendak mereka capai dengan cara mengkampanyekan ide itu dalam forum-forum, majelis kajian, kolom berita dan yang lainnya? Sambil menuding-nuding Mujahid hari ini adalah khowarij, anjing neraka. Astaghfirullohal azhim…

Ketahuilah, Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam mengabarkan hadits itu berkenaan dalam bab orang yang beribadah karena RIYA’ dan SUM’AH. Nah, kalau begitu, mengapa mereka sangat berhasrat sekali menggunakan hadits Abu Hurairah dan melemparkannya kepada mujahidin hari ini? Dengan nada menuduh Mujahid hari ini pasti riya’ dan menjadi orang yang pertama kali masuk dalam Neraka. Kok, memahaminya seperti itu? Ini ada mesti ada yang salah…

Kalau begitu apakah semua shahabat adalah orang yang pertama masuk neraka? Sebab, mereka semua gemar berjihad, mencintai jihad dan mujahidin. Kalau tidak, mengapa membeda-bedakan antara yang berjihad adalah generasi salaf, dan yang berjihad adalah generasi khalaf? Semoga Alloh Subhanahu wata’ala menjauhkan para shahabat Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam dari tuduhan keji itu…

Anehnya, mengapa yang selalu diungkit-ungkit adalah mujahidinnya? Bukannya dalam redaksi hadits shahih itu juga dikatakan ada Ahlul Qur’an dan Ahlus Shadaqah? Mengapa tidak dikatakan juga Ahlul Qur’an dan Ahlus Shadaqah masuk neraka? Bukannya jumlah dermawan yang suka bersedakah hari ini sangat banyak? Tidak, tidak, hal ini memang menunjukkan adanya “order” dan “pesanan” untuk mencari-cari pembenaran dalam rangka menyalahkan jihad dan mujahidin di akhir zaman ini. Agar orang-orang malas, benci dan kemudian meninggalkan jihad yang jauh lebih utama dari amalan lainnya.

Dan belum cukup sampai disitu, bila kita perhatikan, hadits Abu Hurairah itu berada pada Hadits Imam Muslim dalam Kitab Al-Imarah pada bab “Man qatala lir riya wa sum’ah.” (Barang siapa yang berperang karena riya’ dan sum’ah)

Mari kita tunjukkan bagaimana Imam Muslim bertolak belakang dengan kebiasan mayoritas manusia hari ini. Coba kita teliti, kita lihat Shahih Muslim dalam Kitab yang sama dalam Al-Imarah, sebelum bab ini (Man qatala lir riya wa sum’ah), maka akan engkau dapati, tepat sebelum bab ini yaitu bab: “Orang yang berperang agar kalimat Alloh tinggi, maka dia berada di Sabilillah.”

Sebelumnya lagi ada bab: “Ditetapkannya Syurga bagi orang yang syahid.

Sebelumnya lagi ada bab: “Utamanya berinfak fi sabilillah”,

Sebelumnya lagi, “Bab penjelasan dua lelaki yang membunuh salah satunya (dalam jihad karena tidak sengaja) keduanya masuk syurga.”

Sebelumnya lagi, “Bab keutamaan jihad dan ribath”,

Sebelumnya lagi, “Bab penjelasan tentang arwah syuhada di jannah, bahwasanya mereka hidup di sisi Rabb (Alloh)”,

Sebelumnya lagi, “Bab orang yang berperang fi sabilillah akan diampuni semua dosa-dosanya kecuali hutang.”

Ya akhy… banyak sekali keutamaan jihad dan mujahidin, dan itu belum masuk dalam pembahasan, baru judul, belum lagi dari jalur Imam yang lain…

Sedangkan bab setelahnya akan didapati, “Bab disukainya mencari syahadah (mati syahid) fi sabilillah”,

Setelahnya lagi, “Bab celaan kepada mereka yang mati, sedangkan mereka tidak pernah berperang dan tidak pernah membetikkan didalam hatinya keinginan untuk berperang”,

Setelahnya lagi, “Bab utamanya berjihad di laut”,

Setelahnya lagi, “Bab utamanya melakukan ribath fi sabilillah”,

Setelahnya lagi, “Bab tidak henti-hentinya umatku berada diatas Al-Haq (mereka berjihad, edt).” Dan seterusnya…

Dimanakah keutamaan dan dicintainya jihad oleh Alloh dan Rasulnya mereka sembunyikan? Hanya karena satu hadits saja, bisa memlintir dan mengalahkan kewajiban yang wajib ini? Tidak, tidak, ini tidak adil…

Wahai mereka yang menggembosi dan mengekor musuh-musuh Alloh, Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam mengabarkan satu hadits dari Abu Hurairah tentang orang yang berjihad namun masuk neraka, hal ini menunjukkan agar mereka selalu waspada agar senantiasa meluruskan niatnya dalam melaksanakan keutamaan ini. Sayang sekali, bila amal yang besar ini menjadi sia-sia. Mewaspadai dari sifat ghulul dalam jihad, mewaspadai sifat riya’ dan sum’ah agar tidak sia-sia.

Namun, bukan berarti perintah ini menjadi batal dan menjadi haram dilakukan. Bukan! Toh, tak hanya orang yang berjihad dengan riya’ yang dapat masuk neraka, tetapi juga orang yang faham Al-Qur’an dan suka bersedekah, mereka semua juga  diancam, bila melaksanakannya dengan riya’ pun mereka sama dapat masuk neraka. Mengapa hanya Mujahid yang paling di sorot. Bukankah dalam redaksi lengkapnya tidak hanya Mujahid yang mendapat ancaman itu?

Seharusnya, kita mengakui, sedangkan Mujahid, yang amalannya paling tinggi dan tiada amalan yang mengunggulinya saja, bila melaksanakannya ada riya’ akan masuk neraka! Maka, bagaimana dengan mereka yang mengamalkan amalan yang jauh lebih rendah dibawah jihad??? Bukankah itu lebih harus hati-hati lagi?? Berhati-hatilah wahai para penggembos dan para pemmlintir dalil…

Nabi menceritakan hadits di atas, bukan untuk dipahami dengan hadits itu lantas dijadikan dalil bahwa perintah jihad menjadi gugur. Tidak, tidak!

Bukan pula belum menangnya mujahidin hari ini dapat dikatakan kalah dan salah dalam amal ketaatan mereka, lantas dituding-tuding mereka pasti riya’, mereka khowarij, dan mereka teroris lalu mereka di jadikan sasaran orang yang akan masuk neraka…

Justru, tudingan yang seperti ini jauh mendahului hak Alloh. Siapa yang paling mengetahui seseorang riya atau tidak? Siapa yang bisa mengetahui seseorang sum’ah atau tidak? Dan siapa yang paling mengetahui seseorang masuk neraka atau tidak? Justru ini lebih parah dari khowarij! Karena mereka lantang memvonis seorang hamba di dunia ini adalah Ahlu Neraka. Padahal Rasululloh jelas-jelas melarang mengatakan kepada saudaranya, “Kamu pasti masuk neraka!”[3] (lihat catatan kaki)

Sungguh tuduhan itu, tentangnya Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “…Demi Dzat yang jiwa Abu Al-Qasim ada di tangan-Nya, sungguh ia telah berbicara suatu kata yang mencelakakan dunia dan akhiratnya.”[4]

Kalau setiap orang yang berjihad hari ini pasti riya dan masuk neraka, bukankah banyak sekali orang yang bersedekah hari ini. Bukankah banyak sekali orang yang naik haji, kemudian menyandangkan gelar haji dalam nama mereka. Bukankah banyak sekali training sholat tahajjut secara terbuka. Mengapa tidak dikatakan mereka riya? Mengapa tidak dikatakan mereka masuk neraka yang pertama kali?

Kalau tidak, mengapa dibedakan orang yang mengamalkan jihad adalah riya, sedangkan orang yang menyandangkan gelar haji dalam namanya dan dan orang yang beramal dengan amalan lainnya tidak riya’?

bagaimana cara membedakannya? Bukannya itu semua sama saja? Tak ada yang tau seseorang itu riya atau tidak riya’, karena riya urusan hati. Berbeda halnya dengan orang yang tidak pernah sholat dan melakukan sholat, penglihatan mampu membedakan mereka.

Maka hanya Alloh lah yang paling adil menghukumi riya’ atau tidaknya seseorang. Justru mereka yang mengkritik mujahidin dan merendah-rendahkan mereka, maka pemfitnah itulah yang dikhawatiri ada riya didalam dadanya. Sebab, bagaimana seseorang merasa besar diri, sedangkan tidak ada yang bisa mengalahkan amalan seorang Mujahid?

Kita patut curiga… karena Alloh Subhanahu wata’ala berfirman,

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (At-Taubah: 19-20)

Labbaik ya ukhtina

Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, dalam Shahih Bukhari, Kitab: Iman. Bab: Jihad bagian dari iman No. Hadist: 35,

حَدَّثَنَا حَرَمِيُّ بْنُ حَفْصٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ بْنُ عَمْرِو بْنِ جَرِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ انْتَدَبَ اللَّهُ لِمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا إِيمَانٌ بِي وَتَصْدِيقٌ بِرُسُلِي أَنْ أُرْجِعَهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ أَوْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَلَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي مَا قَعَدْتُ خَلْفَ سَرِيَّةٍ وَلَوَدِدْتُ أَنِّي أُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ

Telah menceritakan kepada kami Harami bin Hafsh berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid berkata, telah menceritakan kepada kami Umarah berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah bin ‘Amru bin Jarir berkata: Aku mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah menjamin orang yang keluar (berperang) di jalan-Nya, tidak ada yang mendorongnya keluar kecuali karena iman kepada-Ku dan membenarkan para rasul-Ku untuk mengembalikannya dengan memperoleh pahala atau ghonimah atau memasukkannya ke surga. Kalau seandainya tidak memberatkan umatku tentu aku tidak akan duduk tinggal diam di belakang sariyyah (pasukan khusus) dan tentu aku ingin sekali bila aku terbunuh di jalan Allah lalu aku dihidupkan lagi kemudian terbunuh lagi lalu aku dihidupkan kembali kemudian terbunuh lagi”.

Dalam riwayat yang lain pula dikatakan, Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasululloh, ajarkan aku sebuah amalan yang dengannya aku dapat memperoleh pahala Mujahidin di jalan Alloh,” Rasululloh bersabda, “Apakah kamu sanggup melakukan shalat tanpa istirahat dan puasa tanpa berbuka?” Laki-laki itu menjawab, “Wahai Rasululloh, aku adalah orang yang lemah untuk mampu melakukan hal tersebut (dan tidak akan ada yang mampu—edt)” Kemudian Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku berada dalam genggamanNya, seandainya engkau mampu melakukan hal tersebut (shalat dan puasa tanpa istirahat), engkau masih belum menyamai tingkatan amal Mujahidin di jalan Alloh. Apakah kamu tidak tahu bahwa sesungguhnya—aktivitas apasaja—kuda milik Mujahid saja benar-benar akan dicatat baginya pahala-pahala kebaikan’.”[5]

Hanya dalam hal kendaraan mujahidin sudah dinilai pahala kebaikan, lantas bagaimana dengan mujahidnya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh juga pernah berkata, “…Bagaimanapun, jihad melawan kaum kafir adalah termasuk amalan terbesar dan paling utama.” (Majmu’ Al-Fatawa 11/197, dan Al-Furqan Baina Awliya` Ar-Rahman wa Awliya` Asy-Syaithan: 46).

Dengan demikian, pastaskah seseorang yang mengetahui ilmu mengatakan bahwa Mujahid hari ini dan orang yang membelanya akan dimasukkan kedalam neraka?

Apakah perintah yang nyata ini dengan mudahnya digugurkan hanya karena dugaan hati dan keragu-raguan??

Keadaan seperti ini, menunjukkan kurangnya muhasabah terhadap diri ini. Menganggap remeh urusan terhadap Alloh dan menelantarkan saudara sesama muslim yang tertindas. Suka menghasud, dan menginginkan kebebasan nafsu berkeliaran. Moh, untuk di kekang, “…pokoke aku wegah syariat-syariatan…” kata mereka seperti itu… laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Semua ini mari kita jawab didalam hati kita masing-masing. Jagalah lisan ini dari menyindir apalagi menyakiti hati mujahidin, bahkan menjadi kewajiban seorang muslim untuk mendoakan mereka, mendukung dan menolong mereka, walaupun orang kafir membencinya.

Katakanlah kebenaran, atau diam. Alangkah indahnya menyibukkan diri untuk senantiasa memperbaiki ketaatan kepada Alloh Subhanahu wata’ala daripada mengkritik mujahidin. Apalah artinya, bila kita merendah-rendahkan orang lain, namun ternyata Alloh memuliakan mereka di dunia dan di akhirat.

Apakah mereka bersuka-ria bila mujahidin mendapatkan kekalahan seraya berkata, “Lihatlah mereka yang salah langkah dan tergelincir, alangkah selamatnya diriku dalam kehati-hatian ini…” Lalu ketika mujahidin menang dan menunjukkan eksistensinya, dia menjadi benci dan bermuka masam, atau berkata, “Kiranya aku dulu bersamanya…”

Alloh Subhanahu wata’ala berfirman,

“Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (hati-hati dan tidak pergi perang)’ dan mereka berpaling dengan rasa gembira.” (At-Taubah: 50)

“Katakanlah: ‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau syahid) Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu’.” (At-Taubah: 52)

Wallohu a’lam bish showab. (Abu Isham/MimbarAlQalam)


[1] QS. Al-Baqarah: 183

[2] QS. Al-Baqarah: 216

[3]Di kaum bani Israil ada dua orang, yang satu, selalu rajin beribadah, sedangkan yang ke dua bertindak dhalim terhadap dirinya, namun keduanya saling bersahabat. Orang yang rajin beribadah tersebut selalu saja memandang orang lain ada dosanya, sehingga ia berkata, kamu ini, taubatlah, lalu orang tersebut berkata, tinggalkan aku bersama Rabbku, apakah engkau diutus kepadaku sebagai pengintai. Karena orang yang rajin beribadah tersebut melihat bahwa pada suatu hari temannya melakukan dosa yang dianggap besar, maka ia berkata kepadanya, celaka kamu, bertaubatlah, lelaki tersebut berkata: tinggalkan aku bersama Rabbku, apakah engkau disuruh untuk mengintaiku. Orang yang rajin beribadah berkata lagi, demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu atau Allah tidak akan memasukkanmu ke surga selamanya. Setelah itu, Allah mengutus seorang malaikat kepada keduanya untuk mencabut ruh mereka dan mengumpulkannya di sisi-Nya. Lalu Allah berfirman kepada orang yang berbuat dosa, pergilah, masuk ke surga dengan rahmat-Ku, dan Allah berfirman kepada orang yang rajin beribadah, “Apakah engkau orang yang berilmu, apakah engkau memiliki kemampuan seperti aku? Masukkanlah ia ke neraka.” Lalu Rasulullah bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwa Abu Al-Qasim ada di tangan-Nya, sungguh ia telah berbicara suatu kata yang mencelakakan dunia dan akhiratnya’.” [HR. Abu dawud dari hadits ‘Ikrimah bin Ammar]. Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal 511

[4] Ibid.

[5]. Syaikh Ibnu Katsir, “Tafsir Ibnu Katsir,” Surah Ali ‘Imran: 199-200; Hadits senada dengan HR. Imam Bukhari, “Shahih Bukhari,” 10/176, bab: “Fadhlu Jihad was-Siyar,” no. 2785; HR. Ahmad, “Musnad Ahmad,” 18/298, no. 8767; HR. Baihaqi, “Sunan Baihaqi,” 2/202, bab: “Fi Fadhlil Jihad fi Sabilillah,” no. 18958; HR. An-Nasa’i, “Sunan A-Nasa’i,” 6/326,  no. 3128; Dan diriwayatkan juga oleh: Al-Hakim, Ath-Thabrani dan Abu Dawud dengan redaksi serupa dan sedikit perbedaan lafal.

Dari redaksi Imam Muslim menceritakan, dari Abu Hurairah, “Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam ditanya, ‘Amalan apa yang menandingi jihad di jalan Alloh ‘Azza wa Jalla?’ Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Kamu tidak akan bisa.’ Penanya mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali dan Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Kamu tidak akan bisa.’ Dan ketiga kalinya, beliau berkata, ‘Perumpamaan seorang Mujahid di jalan Alloh adalah seperti orang yang berpuasa, orang yang berdiri (shalat) lagi taat dengan ayat-ayat Alloh Subhanahu wata’ala, dia tidak berbuka dan istirahat dari puasa dan shalatnya, hingga seorang Mujahid pulang dari (berperang) di jalan Alloh Subhanahu wata’ala.” [HR. Muslim, “Shahih Muslim,” 6/35, bab: “Fadhlu Asy-Syahadah fi Sabilillahi Ta’ala,” no. 4977, dan senada pada 8/221 no. 7659].

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s